Kau





            Malam yang sunyi dan sepi membawaku dalam gelapnya awan dan membuatku merasa semakin kosong tanpa harapan. Sesekali terdengar suara obrolan pengunjung lain memecahkan keheningan ini. Aku masih disini dalam dekapan rindu yang menggebu dan semakin tidak terkendali. Aku terdiam dan mengingat kursi yang selalu aku duduki, kursi ini seakan sudah sangat mengenalku, bagaimana tidak? Kursi ini yang selalu menemaniku di setiap malam ketika aku memikirkanmu di tempat ini, tempat kita pertama kali bertemu. Suara decitan kursi ketika aku menggesernya sudah sangat khas di telinggaku. Aku memesan secangkir kopi manis tetapi mengapa tidak terasa manis dan hanya hambar yang bisa kurasakan. Kopi panaspun juga sudah berubah menjadi dingin. Apa yang salah dengan diriku? Aku membawa sebuah buku milikmu, ya… buku jurnalmu yang kau titipkan kepadaku saat itu. Semua cerita hidupmu kau tuliskan disini. Setiap tetes tinta yang kau gunakan mempunyai arti cerita yang begitu dalam, kau pernah berkata kepadaku bahwa “Waktu tetap berjalan, tapi disetiap moment harus kau simpan karena tidak bisa terulang” Iya kau benar, seperti kita yang tidak bisa kembali. Kenangan bersamamu tidak akan bisa terulang. Aku mulai memberanikan diri membuka halaman pertama jurnalmu, seperti biasa halaman pertama adalah nama pemilik jurnal … Rangga. Aku merasakan helaian yang tipis dan tajam buku jurnalmu membuatku perlahan untuk memegangnya, aku melanjutkan untuk membuka halaman kedua dan menikmati setiap lembaran yang ada. Rasanya rindu ini semakin memuncak ketika aku melanjutkan membaca setiap lembar bagian cerita hidupmu, setiap lembar demi lembar setiap kata dan kalimat, aku mulai mengerti. Terkadang semua yang kau tuliskan membuatku tersenyum dan tertawa kecil, mengetahui kisah – kisah yang menyenangkan dihidupmu, tetapi terkadang membuatku tersentuh. Gaya tulisanmu yang kurang bagus, sering kali menjadi bahan ejekanku dulu kepadamu, apakah kau masih mengingatnya? Entahlah, aku mulai mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Ternyata kau pernah menungguku hingga pagi untuk meminta maaf dariku. Aku masih ingat ketika itu, kita tidak lagi baik dan aku marah kepadamu hanya karena kau tidak memberiku ucapan selamat ulang tahun. Aku tidak tahu bahwa ketika itu kau sedang membeli mawar untukku, kau terburu – buru hingga kau tak sadar bahwa darah mengalir dihidungmu, kau terjatuh dan tak sadarkan diri. Ketika itu aku masih belum mengetahuai apa sebenarnya yang terjadi kepadamu hingga pada akhirnya aku mengetahui jika keadaanmu tidak baik. Aku masih melanjutkan membaca dan menikmati setiap tulisanmu hingga pada akhir halaman yang kau tulis. Seketika dadaku merasa sesak, sangat sesak sehingga aku tidak bisa bernafas dengan lancar, bahkan seakan jantungku berhenti berdetak. Tetes air mataku yang mengalir membasahi buku jurnalmu, aku tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu dalam dengan kalimat yang kau tuliskan dan mengingat hal yag terjadi padamu. Hatiku berteriak dan menjerit memanggil namamu dan aku tidak bisa mengatakan apapun.


“Teruntuk Dinda sahabatku,
Kamu tau aku merasa matahari tidak bersinar terang saat ini karena kamu belum datang hari ini. Iya gelap kan udah malem hehe ... Aku menunggmu, tapi sampai malam ini kamu belum juga datang. Biasanya kamu yang selalu menghiburku setiap sore. Apakah kamu baik – baik saja? Kamu tau kan aku tidak bisa berkata manis kepadamu, aku kaku dan tidak romantis jika mengungkapkan hal semacam ini. Tapi asal kamu tau, jika aku benar – benar tulus kepadamu. Aku menyukaimu. Terima kasih Dinda sudah menjadi bagian hidupku, terima kasih Dinda selama penyakit ganas ini bersarang ditubuhku kau tidak pernah meninggalkanku, terima kasih Dinda kau selalu ada untukku dan menjadi penyemangat hidupku, dan terima kasih untuk segalanya. Aku bersyukur dan benar – benar bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan kamu dan dengan seseorang yang begitu hebat, kau hebat Dinda! Ya .. hebat, aku percaya kamu bisa mewujudkan semua impian kamu. Aku akan selalu tetap mendukungmu! Sepertinya mulai besok aku tidak bisa memberikan bunga lagi kepadamu melihat kondisiku yang semakin buruk dan juga besok aku harus pindah ke rumah sakit lain, aku harap kamu jangan menangis lagi. Tenang, ketika sembuh nanti aku akan kembali mengirimkan bunga untukmu. Bunga mawar tentunya, itu kan kesukaan kamu.”

Langit yang begitu cerah pagi ini membuatku merasa tidak bersahabat karena hati ini masih kelabu. Aku berkunjung lagi menggunakan pakaian serba hitam, aku menempatkan jariku di sela-sela batang yang berduri membawa setangkai mawar untukmu. “Aku masih mengingatnya setiap hari kamu selalu mengirimkan aku setangkai mawar merah, bahkan ketika kamu sedang sakit kamu tetap memberiku bunga mawar. Mulai sekarang, giliran aku yang membawakanmu bunga mawar. Seperti yang kamu katakan aku adalah wanita yang hebat dan aku akan buktikan kepadamu bahwa aku bisa mewujudkan impianku, aku berjanji! Rangga, aku juga menyukaimu dan selamanya aku akan tetap mengingatmu. Lihatlah! Aku sudah tidak menangis” tanpa kusadari tetesan air sudah membasahi batu yang bertuliskan namamu, tapi matahari pagi ini masih cerah. Cerah sekali.


Komentar

  1. So sad, but bagus banget ceritanya. Gaya bahasanya bagus binggowww... Ku suka... (love)

    BalasHapus
  2. Sedihh :,(
    Mungkin dibuat novel bagus... tapi ceritanya buat yang susah ditebak biar penasaran :)))
    Buat para pembaca jadi senyum - senyum sendiri pas baca yaa haha
    Lanjutkan maa 👊

    BalasHapus
  3. Bagus💛
    Bisa bikin emosi pembaca naik turun. Kata-kata nya makin bagus. Buat lagi yg bisa bikin pembaca baper dong:)

    BalasHapus
  4. Sedih banget:(( kenapa rangga cepet meninggalnya meninggalkan dindaa sendirian;(( lanjutkan ceritanyaaaa💜

    BalasHapus
  5. Keseluruhan ceritanya menarik�� ada penulisan yg typo (sedikit, 1-2kata).
    lanjutkan! Bikin pembaca semakin mengena dengan karyamu.

    BalasHapus
  6. Bagus banget ceritanya gue terharu banget bacanya seriusan aslii bagus.. Lanjutkan!!

    BalasHapus
  7. Ceritanya sih oke ngena, tapi lebih ngena lagi kalo nama rangga nya diganti jadi bagus, pasti lebih menarik! :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amplop Merah Muda part 1